Saya pernah mencoba menjadi seorang salesman. Setelah menyelesaikan SMA, saya mencoba peruntungan di bidang ini. Sales parabola. Awal 90-an perangkat parabola telah menjadi perangkat pelengkap seperti kulkas dan televisi. Dan sepertinya tidak berjalan dengan baik. Sambil mencari pekerjaan lain, saya juga mencoba bergabung dengan salah satu organisasi sosial kepemudaan. Mana tahu sifat introvert yang menjadi kekurangan untuk bisa bersosialisasi dan berkomunikasi bisa ditingkatkan lagi. Ketika masih di sekolah, saya selalu menghindar untuk berada di depan dalam urusan berbicara. Posisi duduk apalagi, selalu mencari barisan belakang.
Namun bergabung dengan organisasi tidak berjalan dengan baik (pada awalnya). Sebagian besar waktu hanya jadi barisan pendukung dan tetap di belakang layar. Namun kegiatan itu tidak pernah saya tinggalkan, karena bergabung dengan kegiatan seperti ini bisa membuka wawasan. Terlebih lagi dapat berkenalan dengan teman-teman yang baru. Apalagi kalau berkesempatan berkenalan dengan lawan jenis.
Dari day one bekerja di toko, perusahaan, pabrik, PT kecil maupun PT besar saya lewati sebagai orang di belakang layar alias back office. Ibu sering menyindir saya setiap kali saya pulang kerja dan membantunya berjualan di toko ATK sederhana miliknya. “Kalau yang jualan seperti kamu, maka tidak ada yang mau mampir lagi ke sini”. “Jualan itu banyak senyum dan tawarkan barang lain”. Sampai sekarang saya masih ingat kata-kata beliau.
Pada suatu kesempatan meeting, seorang expat yang menjadi project advisor menyarankan untuk membentuk sebuah tim panitia kegiatan perusahaan. Masih ada 5 peserta lain di meeting tersebut. Suasana langsung menjadi senyap ketika beliau meminta volunteer menjadi ketua panitia. Saat itu juga, tekad yang mendalam untuk mau berubah membuat saya mengambil tugas tersebut. Bayangan betapa tidak nyamannya berinteraksi dengan banyak orang dalam sebuah kegiatan yang menyangkut ratusan orang terlintas di pikiranku selama beberapa minggu setelah saya menerima tawaran itu.
Ternyata pengalaman di organasasi selama ini bisa saya manfaatkan dengan baik untuk mengatur, merencanakan dan menjalankan semua tugas yang diemban oleh expat tersebut. Dengan kondisi yang terjepit, komunikasi dengan pihak lain semakin intens, bertemu dengan orang yang tidak dikenal semakin sering. Seiring berjalannya waktu, kegiatan yang direncanakan hampir 9 bulan itu akhirnya tercapai dan berjalan cukup baik. Bahkan saya kembali terpilih menjadi ketua panitia untuk dua kegiatan berikutnya.
Apakah sifat introvert saya telah hilang? Tidak. Sifat introvert itu tidak pernah hilang. Keinginan dan niat yang kuat memungkinkan saya untuk beberapa waktu bisa menjadi seorang ekstrovert ketika berada di depan umum.
Moral: Introvert menjadi ekstrovert atau sebaliknya adalah sama. Ini seperti berenang melawan arus. Seberapa banyak passion atau niatan untuk mencapai finish? Tergantung yang sedang berenang itu, apakah hanya sekedar bisa mencapai finish atau finish pertama?