Anak sulung tiba-tiba menghubungi saya yang sedang dikantor. Awalnya saya mengira hendak minta dibelikan makan siang dari ojol. Ternyata dia mengeluh sakit kepala dan sedikit demam. Hujan sering membuat semua pengguna jalan menjadi senewen dan mengakibatkan macet panjang dimana-mana. Akibatnya bus yang mengantarnya ikut terjebak macet. Sehingga dia kehujanan ketika berjalan kaki ke sekolah. Supaya tidak terlambat katanya.
Ketika pulang dari kantor, demamnya semakin tinggi. Ketiadaan dokter Moer ternyata masih belum tergantikan oleh kami. Namun, mau tidak mau harus mencari dokter lain sebagai penggantinya. Setelah menunggu lama disalah satu klinik rujukan teman istri, kami agak terkejut karena anak sulung ternyata positif covid. Hasil ini mengakibatkan efek berantai kepada semua anggota keluarga yang lain. Saya harus kembali work from home. Sedangkan kantor istri yang tidak menganut sekte WFH, terpaksa mengambil cuti. Dan si bungsu harus ikut mengungsi ke kamar lain. Untuk kedua kalinya kami mempraktekkan pengungsian ini karena sebelumnya istri juga tampil perdana sebagai anggota keluarga yang positif covid tahun lalu.
Keesokan harinya, laptop mulai berulah dan menampilkan blue screen yang berulang-ulang. Saya pun menyerah dan pasrah menyerahkan laptop ke service centre. Sebenarnya baterai laptop juga sudah mulai lemah. Unit pengganti sudah dibeli dan tinggal dipasang. Berarti nanti sekalian saja dipasang baterai laptopnya. Semoga minggu depan semua sudah lancar kembali, doaku dalam hati.
Namun harapan kadang berbeda dengan kenyataan. Baterai yang telah dibeli ternyata tidak cocok dengan laptopnya. Layar laptop juga mulai menunjukkan tanda-tanda rusak dan tidak akan bertahan lama lagi. Satu-satunya hiburan adalah laptop sudah bisa digunakan kembali. Dan baterai laptop ternyata masih bisa ditukar.
Yang masih tersisa adalah perasaan kesal. Sepertinya akhir minggu ini semua tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dari anak yang positif sampai dengan laptop yang rusak. Namun ada dua kejadian yang seolah-olah menyadarkanku. Dalam perjalanan menuju kantor, saya melihat kecelakaan yang dialami seorang ibu pengendara sepeda motor yang ingin menghindar dari mobil yang berlawanan arah sehingga harus terjungkal ke trotoar. Beberapa pengendara sepeda motor beserta polantas yang ada dilokasi langsung datang membantu. Ketika dalam perjalanan kembali ke rumah, saya kembali menyaksikan tabrakan antara mobil pickup dengan mobil sedan. Dua kecelakaan beruntun dalam satu hari membuat saya sadar bahwa rasa kesal yang dirasakan tidaklah sebanding dengan kedua kecelakaan tersebut. Dan rasa kesal itu dengan perlahan sirna dari pikiranku.
Moral: Ketika berada di zona nyaman, kita akan selalu berusaha untuk tetap berada disana. Hambatan itu selalu ada dan bisa membuat kita sadar bahwa kita harus lebih sering mensyukuri pada hal-hal kecil yang telah ada.