Tidak pernah terlintas dalam pikiran salah seorang teman sejawatku yang terbilang cukup senior dalam level management. Bahkan sudah dianggap sebagai salah satu tangan kanan boss. Ketika sedang menikmati liburannya di luar negri, tiba-tiba harus menerima panggilan telepon dari boss.
Tanpa rasa curiga panggilan tersebut langsung dijawab walaupun dalam kondisi cuti.
Setelah berbicara panjang lebar, boss menanyakan lokasi teman tersebut. Disinilah petaka itu bermula. Ternyata teman tersebut berlibur dinegara yang sama dengan boss yang sedang bekerja. Tanpa basa basi sang boss ingin bertemu langsung alias mengadakan meeeting mendadak. Benar-benar buah simalakama. Melanjutkan liburan berarti menolak sang boss. Menerima boss berarti menelantarkan anak istri.
Setelah beberapa saat merenung, teman tersebut mengambil jalan tengah. Menyelesaikan liburan anak istri sampai sore dan bertemu dengan boss malam hari.
Namun maksud hati dan niat baik tersebut malah di tolak oleh sang boss. Sang boss sudah keburu ngambek karena meeting mendadak tersebut diundur. Alhasil setelah kembali bekerja, selama beberapa minggu sang boss tidak pernah mau lagi berbicara dengan teman tersebut.
Moral: Pengorbanan tidak mengenal tempat, waktu dan kondisi. Bahkan ketika Anda cuti sekalipun. Masalahnya pergorbanan itu benar-benar sebuah pengorbanan atau malah menjadi korban? Yang kedua, alangkahnya baiknya berlibur dinegara yang berbeda dengan atasanmu berada.