Sebagian besar karyawan yang telah bekerja mungkin akan setuju dengan yang satu ini. Makan siang yang biasanya disediakan perusahaan umumnya tidak enak. Bagi saya, makan siang termasuk masalah klasik karena setelah silih berganti perusahaan beberapa kali, masalah ini selalu muncul. Mulai dari model menu yang diganti setiap dua minggu, pilih makanan sendiri menggunakan kupon makan, bahkan sampai katering sendiri. Begitu juga dengan perusahaan terakhir ini. Bukannya tidak tahu bersyukur dan berterima kasih, namun memang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Ini pendapat yang selalu diperbincangkan oleh teman sekantor. Kalau saya memang dasarnya sudah terbiasa untuk makan sedikit. Bukan karena tidak berselera, namun karena kebiasaan memilih-milih makanan!
Selentingan makan siang tidak enak ini rupanya tidak hanya trending di departemen saya, namun sudah menjadi rahasia umum di semua penjuru kantor. Departemen HR yang bertanggung jawab terhadap kualitas makan siang sepertinya menjadi gerah. Beberapa bulan kemudian, beredarlah sebuah kuesioner yang isinya menanyakan kualitas makan siang tersebut. Dengan rasa suka cita seolah-olah suara para staff ini akhirnya bisa didengar, sebagian besar mulai mengisi dengan penuh semangat. Besar harapan suara hati mereka bisa diterima dan ditingkatkan lagi oleh manajemen perusahaan.
Walaupun perusahaan ini telah berskala nasional dan dalam tahap go internasional, namun masih dalam kategori perusahaan keluarga. Dan sedang menjalani peralihan ke generasi ke dua. Dari gosip yang beredar, ibu pak boss walaupun sudah berumur masih aktif dan sering berkunjung ke perusahaan. Walaupun hanya sekedar gosip, saya belum pernah menyaksikan kehadiran beliau-beliau ini secara langsung.
Tiga minggu berselang, beberapa staff dari departmenku tiba-tiba dipanggil HRD untuk segera menghadap ke ibu pak boss. Kami yang tidak dipanggil termasuk saya menjadi menebak-nebak, apa gerangan yang sedang terjadi sehingga harus menghadap beliau. Apakah sebuah berkah atau musibah?
Para rekan kerja ini kembali dengan langkah gontai. Ternyata dari sekalian banyak kuesioner megenai makan siang, hanya departemen kami yang mengutarakan kualitas makan siang dengan julid. Bukannya diterima dengan baik, malah sebaliknya. Omelan demi omelan harus mereka terima. Belum cukup sampai disitu, ketika pak boss datang, omelan part 2 berlanjut lagi.
Akibatnya selera makan siang menjadi hilang selama beberapa minggu. Departemen kami melakukan boikot kecil-kecilan dengan tidak makan di kantin selama seminggu. Seminggu rasanya sudah cukup memuaskan rasa dongkol tersebut. Waktu itu belum ada ojol, semua mengandalkan fasilitas pengantaran dari tempat makan itu sendiri. Dan tentu saja semua dalam radius dekat dengan perusahaan. Dan tentu saja tidak begitu banyak pilihan menu yang tersedia.
Yang mengejutkan, ternyata bukan kami saja yang menghindari makan siang di kantin, ternyata banyak dari departemen lain yang melakukan hal yang sama. Terbukti ketika kami melakukan aktivitas boikot, ditemukan banyak bungkusan makan siang untuk departemen lain selain departemen kami sendiri.
Moral: Kebenaran itu kadang sulit untuk bisa diterima seseorang. Oleh karena itu, sebelum mengisi kuesioner pastikan untuk tidak mencantumkan nama, nomor induk maupun departemen.