Panggilan Terakhir

By | October 16, 2022

Mendapat titah untuk bisa hadir di meeting bersama pak boss di negri jiran bukanlah sebuah berkah yang patut disyukuri. Untuk yang belum pernah mungkin menjadi berkah karena akhirnya bisa ke luar negeri. Untuk yang menjadi langganan setia menerima titah, adalah sebuah musibah yang harus dijalani dan dilewati.

Para senior yang sudah banyak makan asam garam tentu sudah terbiasa dengan kondisi apa pun yang akan dihadapi sebelum, di saat dan setelah selesai meeting. Berangkat pagi-pagi subuh ke bandara dan bisa selesai meeting pukul 8 malam adalah hal yang lumrah. Belum lagi semua umpatan dan sumpah serapah yang bisa keluar saat meeting. Kuping menjadi merah sudah dianggap wajar. Semua wanti-wanti tersebut sudah saya cerna jauh-jauh hari. Intinya sudah siap mental.

Meeting beberapa hari berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Pak boss dalam mood lumayan. Dan saat pulang pun tiba. Di dalam taxi, semua berwajah ceria. Beban beberapa hari terakhir seolah-olah telah lenyap.

Mendadak wajah GM ku menjadi kecut setelah menerima pesan di BBM. Pak boss masih ingin berbicara hanya dengannya saja. Kala itu taxi sudah tiba di bandara. Tanpa berpikir panjang saya diturunkan di bandara, sedangkan GM ku langsung memutar haluan untuk kembali ke kantor dengan taxi yang sama.

Untuk beberapa saat saya terbengong-bengong sambil memandangi taxi tersebut menjauh dari bandara. Luar biasa. Beruntung bagi sang GM, karena pada menit-menit terakhir, berhasil kembali lagi ke bandara untuk bisa pulang ke tanah air bersamaku. Beliau tidak pernah tahu bahwa saya harus memohon-mohon pihak maskapai agar masih mau menerima kedatangannya dengan alasan sudah dalam perjalanan dan sedikit terlambat. Karena waktu check-in telah habis dan biasanya akan ditolak oleh counter maskapai tersebut.

Saya sempat menanyakan hal urgent yang dibahas dengan pak boss sampai harus langsung menemuinya. Ternyata pak boss tidak sadar bahwa sang GM sudah on the way ke bandara dan hanya bertanya kapan kembali ke tanah air. Saya bener-bener speechless. Dalam hati saya masih tidak mengerti, apakah lain kali harus pamit dengan pak boss sebelum pulang?

Moral: Ketika sedang berperang, perintah jendral bukan untuk dipertanyakan tapi harus segera dilaksanakan. Walaupun tidak dalam kondisi berperang, resiko menolak perintah tetap saja sama beratnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *