Menurut segelintir orang sebuah nama bisa jadi tidak berarti apa-apa. Namun akan menjadi masalah besar jika suatu hari sekretaris direksi resign dan nama sang sekretaris pengganti termasuk dalam kategori nama pasaran. Mau tidak mau harus dibuat unik, alias tiada duanya di perusahaan yang bernama seperti Budi saja sudah cukup berlimpah ruah. Alasan sang direksi masuk diakal juga. Agar tidak salah mengirim dokumen atau email penting dan rahasia ke orang yang berbeda.
Dan ini bukan yang pertama kalinya. Kejadian pertama kami harus maklumi karena ada staff yang bernama sama dengan direksi. Alhasil staff yang bersangkutan harus patuh dengan mengganti namanya dengan sukarela. Kalau sekarang isitilahnya nama beken atau nama panggung. Ya seperti itulah.
Kejadian yang terakhir ini sudah diluar kewajaran. Bagaimana jika dikemudian hari, sang sekreataris ini kembali resign dan penggantinya menggunakan nama pasaran juga?
Yang lebih menggelikan adalah HR diberi wanti-wanti dari sang direksi agar kedepannya jika menerima karyawan baru harus diperhatikan terlebih dahulu nama staff tersebut agar tidak mirip yang sudah ada. Bisa jadi beberapa tahun ke depan akan ada staff dengan embel-embel beken seperti Budhy Guanteng karena staff dengan nama Budi sudah terlalu banyak.
Alhasil karena nama sang sekretaris baru ini sudah terlalu general, maka dia sendiri yang mengganti namanya dengan nama alias lainnya.
Moral: Mengganti sebuah nama menjadi nama lain bukan bermaksud menganut paham nama tidak mempunyai arti. Tetapi nama tersebut menjadi lebih berarti karena hanya ada satu dan tiada duanya.