Pada suatu malam, tiba-tiba saya dihubungi oleh dokter keluarga kami. Saya mengenal dokter Moer semenjak direkomendasikan sebagai salah satu dokter perusahaan. Tapi seiring berjalannya waktu, dokter Moer menjadi akrab dengan saya, istri dan semua anggota keluarga di rumah. Begitu akrabnya, istri sering menyindir saya. Pemeriksaan dengan dokter 10 menit, tapi ngobrolnya 30 menit. Faktanya tentu tidak begitu. Walaupun kadang-kadang benar adanya ketika tidak ada pasien yang antri di tempat prakteknya. Bahkan bisa berakhir lebih lama.
Dokter Moer mengeluh kalau anak sulungnya yang sedang menjalani perkuliahan semester ke empat jurusan IT, tiba-tiba mogok kuliah. Perguruan tinggi swasta yang dimasuki anaknya juga tergolong prestise dan ternama. Alasannya memang tidak terduga. Karena teman seangkatannya yang juga sedang kuliah di luar negri, sudah mampu mengembangkan aplikasi sendiri. Sehingga membuat dirinya menjadi frustrasi karena masih belum mampu.
Saya hadir karena mempunyai latar belakang sebagai seorang developer selama bertahun-tahun. Masih segar dalam ingatan, ketika masih berseragam SMA, orangtua untuk pertama kalinya memperkenalkan dunia komputer. Saat itu sekitar akhir 80-an atau awal 90-an. Skill tersebut ternyata berkembang menjadi hobi tersendiri yang semakin didalami. Walaupun agak terlambat, akhirnya bisa memasuki dunia perkuliahan jurusan informatika pada akhir 90-an. Selama mengikuti masa perkuliahan, memang tidak ada mata kuliah khusus yang bisa mengembangkan kemampuan untuk bisa menjadi developer. Para dosen banyak memberikan teori dan dasar-dasar yang pada akhirnya harus bisa dikembangkan sendiri. Saya menikmati waktu perkuliahan karena beberapa dosen telah mengidentifikasi mahasiswanya yang sudah bekerja dan telah ahli dalam bidangnya. Setiap ujian semester saya hanya mengumpulkan program yang telah dibuat sesuai materi ujian yang diberikan. Tidak pernah mengikuti ujian tertulis. Setiap ada sesi praktek, dosen bahkan sering menyindir, yang sudah bisa ajarin temennya ya. Jadi asisten dosen dadakan katanya.
Jadi kalau selama ini masih mengharapkan bahwa setelah selesai kuliah S1 serta merta bisa menjadi seorang developer handal, sebaiknya dikoreksi kembali. Akan menjadi handal jika ditambah dengan skill dan minat yang tinggi. Intinya dari pribadi anak itu sendiri, apakah mau menjadi lebih mandiri dalam mengembangkan kemampuannya sehingga menjadi sebuah hobi. Untuk skill bisa juga ditambah dengan mengikuti kursus IT sesuai dengan minat atau yang mendukung perkuliahan.
Saya masih aktif melakukan wawacara kepada para rekrutmen yang telah menyelesaikan kuliah jurusan IT. Mayoritas dari rekrutmen, hanya 10%-20% saja yang benar-benar menguasai tehnik developer yang baik. Dan faktanya, 10%-20% ini memang aktif mengembangkan bakat mereka.
Terakhir, sebaiknya jangan membandingkan kurikulum didalam negri dengan yang berada di luar negri. Yang ini harus diakui bahwa masih terdapat gap perbedaan kualitas yang nyata. Ada harga tentu ada barang kalau menggunakan istilah lokal. Tidak bisa compare apple to apple kalau menggunakan istilah sekarang.
Dokter Moer sepertinya memahami betul penjelasan saya. Beliau menghubungi saya kembali beberapa malam kemudian. Tapi kali ini mengikutsertakan anak sulungnya. Saya memberikan motivasi sambil menjelaskan kembali pengalaman saya sebagai developer selama ini. Semoga rasa belajarnya bisa terdorong kembali.
Namun apa mau dikata, kabar duka harus saya terima beberapa bulan kemudian. Dokter Moer telah tiada. Beliau meninggalkan keluarga tercintanya setelah berjuang melawan virus Covid selama tiga minggu. Artikel ini dibuat untuk mengingatkan seberapa besar jasa orangtua untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Selamat jalan Dok.