Dikecewakan atau mengecewakan?

By | July 11, 2022

Anak bungsu sepertinya mengalami munmen dari pagi hari. Walaupun sedikit kuatir, awalnya tidak kami anggap serius, namun menjelang siang, fase kuatir menuju panik mulai melanda. Dokter keluarga mendadak berhalangan pada saat yang sama. Tanpa menunggu lama, kami alihkan ke dokter penggantinya. Jam praktek selesai pukul 12 siang. Bisakah menunggu kedatangan kami sekitar 30 menit setelah jam 12 Dok? Alhasil, waktu istirahat siang yang lebih diprioritaskan. Dan anak bungsu berakhir di Rumah Sakit. Mengambil salah satu jargon umum yang sedang beredar, hal seperti ini hanyalah oknum semata. Jangan digeneralisir. Setuju? Tentu setuju. Syukuri juga ? Syukuri saja, anak bungsu toh sudah sembuh dan pulih seperti sedia kala. Namun rasa kecewa itu tidak bisa hilang.

Dua minggu berselang, anak bungsu kembali berulah. Gigi susu kembali goyah dan akan diganti gigi lainnya. Jam praktek dokter gigi keluarga selesai pukul 17.30 sore.  Bisakah dibantu mencabut gigi anak yang semakin sakit Dok? Waktu itu adalah hari Sabtu dan waktu telah menunjukkan pukul 17:55 sore. Kembali, waktu istirahat untuk kali kedua memenangi pertarungannya. Dan gigi susu anak bungsu berakhir rontok karena mengigit makanan kesukaannya plus pencabutan barbar ala bundanya. Rasa kecewa yang belum sempat hilang semakin memuncak.

Moral cerita: Rasa sakit kadang tidak bisa mengalahkan rasa ingin istirahat. Dikecewakan maupun mengecewakan adalah sama, karena semuanya berakhir pada rasa kecewa yang mendalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *