Mungkin sudah menjadi kodratnya bagi wanita jika setiap kali ada iklan atau promosi yang tidak mengenal waktu, tempat dan situasi selalu menarik minat mereka.
Suatu ketika dalam perjalanan pulang, mata sang istri tiba-tiba tertuju pada promo yang ditulis dalam selembar karton kecil di belakang sebuah mobil pick up yang penuh berisi buah semangka. Pemandangan luar biasa ini luput dari perhatian saya, namun tidak bagi sang istri. Harga semangka yang hanya Rp. 10.000,- per buah memaksa saya harus berhenti dan sang istri langsung bergegas ke penjual semangka. Saya tentu saja tidak mau terlibat dalam transaksi tersebut. Syukurlah jika semangkanya manis sesuai ekspektasi, jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka yang turut serta dalam transaksi tersebut akan menjadi sasaran ketidakpuasan. Bisa dibayangkan bukan? Tidak makan semangka tapi terkena getahnya juga? So, better stay out of it.
Setelah lebih kurang 10 menit berlalu, istri kembali dengan tangan hampa. Dengan wajah sedikit dongkol, sang istri menerangkan bahwa harga Rp. 10.000 tersebut hanya berlaku untuk buah semangka yang kecil saja. Tidak untuk buah semangka lain yang lebih besar. Saya pun tidak berhenti tertawa mendengar penjelasan tersebut.
Moral: Iklan tetaplah iklan tergantung apakah syarat dan ketentuannya perlu dijelaskan lebih lanjut atau tidak