Lowongan pekerjaan

By | December 18, 2022

Setelah sekian lama bekerja diperusahaan terakhir ini, mulai timbul perasaan settle dengan kondisi pekerjaan maupun tunjangan-tunjangan yang diberikan sehingga semua kebutuhan istri dan anak dapat terpenuhi. Saya merasa tidak ada yang perlu dirisaukan lagi dan bisa berkonsentrasi penuh dengan pekerjaan.

Begitu juga ketika beberapa teman meminta rekomendasi untuk bisa bekerja di perusahaan ini. Dengan senang hati saya membantu mereka untuk memasukkan lamaran kerja mereka. Dan tentu saja sebagian besar saya kenal baik. Untuk beberapa saat semua berjalan baik dan lancar. Lamaran disampaikan, dilakukan panggilan wawancara, dan berakhir dengan diterima bekerja. Begitulah pada awalnya.

Keadaan menjadi berubah ketika suatu siang, salah satu manager sebuah departemen menghubungi saya. Dengan sedikit bernada tinggi, beliau meminta kedatangan saya untuk meminta pertanggungjawaban atas salah satu staff yang telah bekerja dengannya atas rekomendasi dari saya. Sebelum memenuhi permintaannya, saya mencari tahu latar belakang kejadian tersebut sehingga saya harus dipanggil bertemu dengan beliau. Staff yang dimaksud adalah salah satu teman dari organisasi kepemudaan yang pernah saya ikuti. Saya sebenarnya tidak mengenal dengan baik detail pribadi mereka. Hanya sebatas pada saat berorganisasi saja.  Dan dari beberapa kejadian sebelumnya, rupanya staff ini telah beberapa kali telah melakukan kesalahan fatal. Diperparah dengan sikap melawan perintah atasannya yang berakhir akan diberhentikan. Alias pengunduran diri. Masalahnya tidak berakhir disana, staff tersebut tidak mau melakukan pengunduran diri dan tidak mau meninggalkan ruangan manager tersebut. Menyusahkan saja!

Sesaat setelah memasuki ruangan, manager tersebut terlihat cukup emosional dan kembali melanjutkan beberapa pencerahannya yang semua saya iyakan agar bisa meredakan amarahnya. Setelah beliau keluar dari ruangan, saya menatap staff tersebut dengan sedikit tenang. Walaupun dalam hati sudah cukup kesal. Hanya dua hal penting yang saya utarakan kepada staff tersebut. Pertama, karena saya yang merekomendasikan, berarti saya yang bertanggungjawab terhadap tindak tanduknya selama bekerja disini. Yang kedua, saya masih mempunyai anak istri yang harus saya nafkahi. Jadi kalau mau berbuat yang aneh-aneh harus diingat dengan baik-baik bahwa kelakuannya bisa berimbas satu keluarga lain tidak mempunyai nafkah lagi. Akhirnya staff itu mau mengundurkan diri. Walaupun masih kesal dengan sikap staff tersebut, saya hanya bisa bernafas lega masalah ini telah selesai.

Beberapa minggu kemudian, saya kembali mendapat sambungan telepon dari manager yang sama. Dari nada suaranya terdengar berbeda dari sebelumnya. Kali ini sepertinya cukup serius. Saya bergegas menjumpai beliau diruangannya dengan perasaan tidak menentu. Dan ternyata benar. Dari hasil investigasi internal, ditemukan adanya tindak korupsi yang tersangka utamanya tidak lain adalah staff yang telah berhenti tersebut. Mau tidak mau saya kembali dikaitkan dengan tindakan tidak terpuji staff bersangkutan. Menyusahkan ketika masih bekerja dan bahkan lebih menyusahkan setelah orangnya sudah tidak ada.

Dengan jumlah nominal yang tidak sedikit, akhirnya saya harus terlibat dalam usaha membawa tersangka ini untuk mempertanggungjawabkan tindakannya kepada perusahaan. Saya tidak menyangka penyelidikan yang biasa saya saksikan di filim ternyata diterapkan dalam dunia nyata. Alamat rumahnya dimana, sekarang bekerja dimana dan jam berangkat dan pulang kerja. Saya bahkan harus melakukan pengintaian di sekitaran rumah dalam usaha menjemputnya. Dan tentu saja ditemani pihak keamanan alias satpam dari perusahaan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak berani saya bayangkan hal-hal yang tidak diinginkan itu seperti apa.

Saya diterima oleh ibunda staff tersebut ketika dipersilahkan memasuki kediamannya. Dengan alasan ada masalah administrasi yang harus diselesaikan dikantor, saya pun menunggu staff tersebut pulang dari pekerjaannya di tempat yang baru. Dengan tertatih-tatih sang bunda yang sudah berumur tersebut berbasa-basi dengan saya sambil membawakan minuman air putih. Sepertinya sang bunda tidak mengetahui apa yang telah diperbuat anaknya sampai ada yang harus menjemputnya. Pada akhirnya saat-saat yang genting itu pun tiba ketika staff yang ditunggu pulang. Bisa saja staff tersebut berbalik badan dan melarikan diri. Atau tidak mau mengikuti saya ke kantor. Siapa yang tahu apa yang ada dibenaknya saat itu?

Dengan sikap tenang dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, staff tersebut mengikuti saya untuk masuk ke mobil yang akan mengantarnya kembali ke kantor. Sikap staff ini sepertinya sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan dirinya karena tidak terlihat tanda-tanda panik. Sepanjang perjalanan kami tidak saling berbicara. Tenggelam dalam pemikiran masing-masing.

Beberapa hari kemudian saya mendapatkan kabar bahwa staff tersebut memang sengaja melakukan tindak korupsi tersebut dengan alasan sakit hati atas perlakukan atasannya. Tapi saya sudah tidak begitu peduli lagi. Saya bersyukur masalah ini telah selesai. Dan pada akhirnya, saya memutuskan untuk tidak menerima jasa lowongan pekerjaan lagi.

Moral: Peribahasa air susu dibalas air tuba itu benar dan nyata adanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *