Sebagai seorang junior dalam memimpin sebuah departemen bukanlah perkara mudah. Tidak ada training maupun job description yang bisa menjelaskan tugas yang sebenarnya. Intinya adalah jalankan dulu, tanya belakangan. Model seperti ini adalah sebuah hal lumrah jika berada dilingkungan kantor ini. No question ask. Kenyataan yang dialami adalah terlalu banyak mengerjakan atau “terlalu baik” menerima semua pekerjaan di luar dari scope yang diminta. Sampai suatu ketika “perbuatan baik” tersebut seolah-oleh menjadi sebuah paksaan bagi saya untuk harus melakukannya. Akibat karena terlalu sering membantu, pekerjaan tersebut menjadi bagian dari Job Desc!.
Sampai sekarang saya selalu teringat dengan kata-kata yang disampaikan oleh salah satu dosen kampus. Kebiasaan menjadi keharusan, keharusan menjadi paksaan dan paksaan menjadi budaya. Ya, hal ini yang sedang saya alami.
Jangan karena saya mengenal seorang Account Manager provider selular berarti saya yang harus bertanggung jawab jika signalnya drop menjadi GPRS atau EDGE? Bukankah ada departemen lain yang lebih berwenang?
Seorang senior memberikan petuah yang cukup nyelekit. Tidak perlu kasihan dengan orang lain. Kasihan dengan orang lain berarti pekerjaan orang tersebut menjadi tanggung jawabmu. Enough said.
Moral: Hidup memang sudah kejam dari dulunya. Hal yang sama berlaku juga dalam dunia pekerjaan.