Dulu sebelum zaman k-pop yang dahsyat melanda seluruh dunia, saya mengenal salah satu ajusshi yang bekerja sebagai salah satu kontraktor di pabrik yang sedang saya masuki. Dan dulu panggilannya hanya diketahui mister. Ya, semua expat kami panggil dengan istilah mister. Dari sekian banyak kontraktor yang sering mondar-mandir di pabrik kami yang hampir selesai itu, hanya ajusshi ini menarik perhatian. Karena tangan sebelah kanan mulai dari bahu itu tidak ada. Benar-benar ajusshi bertangan satu.
Wajahnya juga tidak begitu friendly. Mister ini juga cukup galak dalam mengatur para pekerja yang tidak mengikuti instruksinya. Lambat laun mulailah muncul beragam cerita mengenai ajusshi tangan satu ini. Ada yang versi memang bawaan lahir. Ada yang versi percaya-tidak percaya, kalau mister itu mantan gangster yang melarikan diri ke Indonesia. Namun siapa yang berani menanyakan kebenarannya? Jadilah kebenaran itu menjadi sebuah misteri dikalangan para staff kantor di pabrik.
Suatu ketika bagian keuangan menghubungi saya. Sepertinya ada kesalahpahaman mengenai kontrak pengerjaan di pabrik dan mister ini kesulitan menjelaskannya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata. Jadilah saya menjadi translator dadakan. Long story short, ada tagihan yang telah dibuatkan adendum yang tidak diketahui olehnya. Jadi masalah menjadi clear dan semua pun lega. Sepertinya mister cukup baik, walaupun dengan bahasa Inggris yang tidak lancar. Itu kali pertama saya berbicara dan melihat dia bisa tersenyum karena tagihannya tidak bermasalah.
Beberapa minggu kemudian ketika sore hari hendak meninggalkan pabrik, saya bertemu lagi dengan mister. Mister ajusshi sedang menunggu mobil jemputannya datang. Dia juga seorang perokok berat. Karena didalam areal pabrik tidak boleh merokok, kata satpam, mister ini sering nongkrong disini kalau merokok. Beliau tersenyum ketika saya menyapa dia. Sedikit basa-basi saya menanyakan tempat tinggal beliau dan proyek-proyek lain yang sedang dia kerjakan. Sepertinya dia senang ada yang berbincang dengannya. Karena setelah pertanyaan-pertanyaan itu, beliau tidak berhenti bercerita.
Entah bagaimana tiba-tiba mister mulai bercerita mengenai tangannya. Dulu mister sering menghabiskan waktunya dengan banyak minum keras sehingga menjadi mabuk. Katanya kebiasaan ketika berada di Korea dan terbawa sampai ke Indonesia. Suatu ketika dalam keadaan mabuk, dia masih menyetir pulang dengan kecepatan tinggi di jalan tol. Tangan sebelah kiri memegang stir mobil, tangan kanan berada diluar mobil karena masih merokok. Dalam kondisi mabuk dan setengah sadar, mister mengalami kecelakaan tunggal. Ketika mulai siuman, mister sudah berada dirumah sakit dan tangan kanannya sudah tidak ada. Kata dokter, tangan sebelah kanan hancur karena kecelakaan. Saat itu tangan kanannya terjepit pintu mobil. Sehingga mau tidak mau harus diamputasi.
Raut muka mister menjadi sedih. Saya pun terdiam dan tidak bisa berkomentar apa-apa. Mister bukan seorang gangster dan bukan seorang pelarian seperti difilim-filim. Semenjak kecelakaan itu mister tidak menyentuh minuman keras lagi. Tapi masih ada satu kebiasaan jelek yang belum hilang. Merokok.
Moral: Level misteri akan semakin tinggi karena keingintahuan yang terbatas. Dan kadang misteri itu hanyalah sebuah tragedi yang bisa terjadi kepada setiap orang.