Rumah jompo

By | July 25, 2022

Menikah itu berarti sudah mempunyai tiga cincin (three rings). Engagement ring, wedding ring dan suffering (penderitaan).

Menakut-nakuti pasangan yang akan atau baru menjalani pernikahan, bagi saya yang sudah melewati masa-masa tersebut kadang bisa menggelikan. Walaupun bisa dbilang keterlaluan, tapi memang fakta itu benar adanya. Tentu saja saya tidak bisa tertawa menggelikan ketika sedang mengalaminya sendiri.

Sederhana saja. Yakin sudah mau menikah dengan calon istrimu yang cantik tapi galak itu? Pacaran saja gualaknya sudah minta ampun. Habis menikah nanti bisa tumbuh tanduk dan ekornya loh. Sebaliknya, untuk calon pengantinnya beda lagi. Yakin masih mau menikah dengan calon suamimu yang ganteng tapi satu-satunya anak dirumahnya? Bisa tahan diatur sama mertuamu? Bapak ibumu sendiri bisa kamu lawan. Bisa perang dunia nanti sama mertuamu nanti.

Untuk yang baru menikah, ada saja yang ditanyakan. Yakin sudah mau punya anak? Tidak bisa happy happy lagi jalan-jalan ke luar negri seenak udelnya. Siapa yang jagain anakmu? Biaya untuk anak besar loh. Harus beli susu, makanan bayi, baju bayi, pampers dan lain sebagainya. Apa sudah siap begadang malam-malam jagain anaknya? Belum lagi kalau anak baby sakit. Hanya bisa rewel dan nangis melulu.

Sebagian besar raut wajah lawan bicara akan langsung tersenyum kecut. Karena tidak bisa menjawab semua pertanyaan tadi. Walaupun hanya sebatas bercanda, ada saja yang menanggapinya dengan serius. Dan pertanyaan yang diajukan juga cukup serius.

Anak Bapak sudah besar semua, berarti tinggal menunggu waktu gendong cucu ya? Tanya ibu Junet. Ya, enggak begitu juga. Sudah jagain mereka sampai dewasa dan menikah, kok harus jagaian cucu lagi? Harapan saya sih tidak terlibat dengan kegiatan baby sitter dan day care lagi. Standarnya jangan begitu. Jangan mengulangi kesalahan itu lagi. Para lawan bicara langsung tersendak dan bengong sekejap.

Saya melanjutkan argumennya. Saya mau jadi manula yang mandiri. Kok masih tinggal dengan anak sih? Sudah cukup menjagain mereka dari usia 0 sampai 30-an tahun. Setelah itu kita mulai lagi the circle of life lagi dari awal? Thanks, but no thanks. Beruntung kalau uang pensiun masih ada tersisa. Kalau sudah tidak ada, ya berakhir ke rumah jompo. Dan kalian yang harus meluangkan waktu untuk datang besuk. Karena kalau saya berakhir di rumah jompo, bisa berarti anak sendiri pun sudah tidak mau menjaga orangtua mereka lagi.

Kali ini ruangan mendadak menjadi senyap. Mengira saya benar-benar serius dan telah merencakan masa tua saya dengan baik dan benar. Mungkin tidak ada berpikiran sebegitu jauhnya atau memang kita tidak pernah berani memikirkannya?

Beberapa minggu kemudian, ibu Junet menghubungi saya. Kali ini giliran saya yang tersendak dan bengong. Kalau bapak sudah reserve rumah jomponya tolong info ke saya juga pak.

Walaupun saya jelaskan bahwa argumen rumah jompo hanya setengah bercanda, namun ibu Junet sudah terlalu percaya dengan penjelasan saya. Dan bersikeras nanti harus tetanggaan kalau sudah berada di rumah jompo. Mati aku.

Belakangan saya baru mengetahui bahwa ibu Junet adalah seorang single parent dan anak semata wayangnya sedang kuliah dan bekerja di luar negri. No wonder.

Moral: Menakut-nakuti tidak serta merta membuat orang lain akan menjadi takut dan kuatir. Kadang bisa berakibat sebaliknya. Menjadi lebih berani dan tertantang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *