Normalize is to make (something) conform to or reduce (something) to a norm or standard
Masih segar dalam ingatanku ketika sudah memasuki SMP kelas 8, aku mulai melakukan beberapa tingkah laku yang kalau saya pikirkan saat ini akan menjadi sangat tidak masuk di akal. Kadang kala, kalau sudah mulai mengingat masa-masa seperti itu, jadi merasa malu sendiri.
Pernah suatu kali saya ketiduran dikelas. Padahal waktu itu masih ada guru yang sedang mengajar di depan kelas. Akibatnya saya kena hukum. Saya merasa sangat bosan dengan pelajaran tersebut dan akhirnya mengantuk. Karena sering tertidur pada pelajaran pertama atau kedua, maka oleh wali kelas, aku dipindahkan tempat duduknya di barisan depan. Waktu itu duduk dekat pintu masuk kelas. Dan saya masih tertidur. Namun kali ini dipanggil guru BP dan dikenakan hukuman berdiri di depan ruangan BP. Aku merasa sama saja karena harus menunggu berjam-jam sambil berdiri. Dengan iseng saya melihat-lihat rungan kelas SMA namun diusir oleh kakak kelas tersebut. Karena terlihat guru BP aku jalan-jalan, hukumanku bertambah lagi.
Akibatnya orangtuaku dipanggil ke sekolah gara-gara perbuatanku itu. Malamnya aku dimarahin oleh ibu hampir setengah jam. Dan tidak boleh bermain game komputer dan jam 9 sudah harus tidur di kamar. Beberapa hari kemudian saya tidak tertidur lagi, namun karena masih merasa bosan dan tidak menarik dengan pelajaran dari guru, iseng aku mulai merobek-robek kertas menjadi potongan kecil dengan jumlah yan cukup banyak. Banyak teman-teman sekelas yang mulai mengganggu dan iseng kepadaku. Dipanggil dengan panggil tukang sampah, anak jorok, dan lain sebagainya karena kadang saya masukkan kertas-kertas itu ke termos air sendiri. Wali kelas sepertinya mulai marah dengan tingkah laku aku dan memanggil orantuku ke sekolah lagi. Malamnya giliran ayah yang memarahiku sambil dijewer-jewer telingaku.
Akhirnya saya diberikan buku oleh orangtuaku. Supaya aku bebas coret-coret dan menggambar di buku itu tanpa mengganggu guru yang sedang mengajar. Beberapa hari berjalan lancar, namun kembali saya mulai bosan. Tidak ada teman yang mau bermain dan mengobrol denganku waktu itu. Hanya beberapa saja yang baik. Kebanyakan menganggap saya aneh. Sebenarnya waktu istirahat adalah waktu yng paling menyenangkan karena bisa kemana-mana. Banyak hal baru yang bisa dilihat. Pernah ketika akan melakukan senam pagi, aku penasaran dengan perangkat speaker yang besar. Karena penasaran, saya mulai melihat dan mencoba memegang alat itu. Dan sepertinya ada yang agak rusak, saya coba perbaiki malah menjadi patah. Akhirnya saya dilapor ke guru langganan saya, yaitu guru BP. Waktu itu aku takut sekali karena pasti orangtuaku akan dipanggil lagi. Dan benar saja, ayah marah sekali malam itu. Ketika sedang tidur aku mendengar ibu menangis. Aku mendengar dari ibu kalau ayah sampai harus meminjam uang untuk mengganti alat speaker yang rusak itu dengan satu unit speaker baru kepada sekolah. Untuk pertama kali aku merasa bersalah. Walaupun aku merasa bukan aku yang mematahkannya, namun aku orang terakhir yang terlihat memegang speaker itu.
Acara tujuh belasan bagi saya adalah waktu yang sangat membosankan. Semua diharuskan hadir dan mengikuti upacara bendera. Setelah itu dilakukan acara-acara lomba. Saya tidak pernah mau mengikuti acara seperti itu dan sepertinya tidak ada yang mau mengajak saya lagi. Maka saya pun mulai berjalan-jalan sendirian disekeliling sekolah seperti biasanya. Ketika hendak mengisi air minum dan tempat galon air, saya melihat sebuat tombol besar berwarna merah tempat dibelakang mesin galon itu. Penasaran dengan fungsi tombol tersebut, saya menekan tombol itu dan dalam waktu singkat seluruh bel emergency sekolah berbunyi keras. Saya sangat terkejut dan berusaha untuk lari meninggalkan tempat itu. Satu-satunya tempat adalah bersembunyi di kamar kecil. Namun sia-sia saja karena melalui kamera CCTV saya berhasil ditangkap oleh satpam sekolah. Kali ini satu sekolah menjadi gempar dengan alarm yang saya tekan tersebut. Malamnya saya tidak berani berulah dan dengan cepat langsung belajar dan masuk ke kamar karena takut dimarahi lagi oleh ayah atau ibu. Tapi malam itu tidak terjadi apa-apa.
Beberapa hari kemudian, tempat duduk saya dipindah lagi. Kali ini didepan tempat duduk guru dan saya duduk berdua dengan Ruby. Ruby diperintahkan oleh wali kelas untuk mengawasi aku. Dengan adanya Ruby, aku menjadi lebih perhatian dan lebih sering mencatat catatan guru karena sering dicubit jika masih termenung karena bosan. Sering mengingatkanku tentang PR dan tugas-tugas lainnya. Kami menjadi akrab dan sering berdua kemana-mana. Waktu itu aku masih ingat, suatu kali setelah pulang dari sekolah aku diajak orangtuaku ke dokter. Aku kurang mengerti dokter apa ditempat itu, tapi saya diberikan banyak pertanyaan, permainan dan tugas yang harus diselesaikan. Seminggu kemudian ibu tiba-tiba memanggilku. Sepertinya ayah membawa pulang hasil dari dokter itu. Aku takut Ibu marah lagi. Namun kali ini Ibu tidak marah, malah sepertinya Ibu sedih sekali.
“Kamu sudah mulai besar dan sebentar lagi remaja. Jangan berbuat yang bisa menyusahkan ayahmu lagi nak. Ayah sudah cukup susah setiap kali dipanggil ke sekolah. Jadilah anak yang biasa seperti anak normal lainnya”, ujar Ibu dengan mata berkaca-kaca.
Aku tidak berani menjawab dan bahkan bertanya. Ayah menatapku dengan tajam dan tidak berkata apa-apa. Mungkin ayah juga kecewa dengan tingkahku selama ini. Bagiku menjadi normal itu membosankan. Setelah itu aku tidak berani lagi berbuat yang aneh-aneh di kelas maupun di luar kelas.
Saat pulang sekolah adalah waktu yang paling menggembirakan karena bersama Ruby bisa menonton Youtube dan bermain game dengan gawainya. Sampai sekarang aku masih heran karena tidak bisa mengetahui dimana Ruby menyimpannya. Suatu siang, ada anak-anak kelas lain yang mulai menggangguku dengan Ruby. Saat itu aku tiba-tiba kesal dan marah sekali dengan mereka. Kulempar termos air ke arah mereka dan hampir mengenai salah satu dari mereka. Sepertinya perbuatanku terlihat oleh pak satpam. Besoknya aku kembali dihukum berdiri di depan ruangan ibu BP. Ayah hari itu sepertinya marah sekali. Aku mendengar ayah seperti bertengkar dengan ibu. Sayup-sayup aku mendengar bahwa aku akan dikeluarkan dari sekolah. Aku takut sekali karena tidak akan bertemu dengan Ruby lagi.
Esok paginya sebelum berangkat ke sekolah, ayah memanggilku. Aku tertunduk dan bersiap-siap dijewer lagi. Ayah berkata, “Nak, kamu itu anak yang berbeda. Kata dokter, kamu itu sudah termasuk anak hiperaktif. Bagi kamu, rasanya untuk normal itu pasti hal yang sulit. Namun lingkungan tidak mengharapkan sesuatu yang berbeda. Karena yang berbeda itu dianggap aneh. Selama disekolah berpura-puralah menjadi normal ya nak. Habis ujian kenaikan kelas mungkin kamu akan pindah sekolah. Sekarang kamu pergilah ke sekolah. Jangan menyusahkan ayah dan ibu lagi. Tunjukkan kamu juga bisa normal seperti yang diinginkan orang lain. Karena menjadi diri sendiri itu kadang kala tidak bisa diterima.”
Walaupun kurang mengerti dengan ucapan ayah, aku agak kecewa karena harus berpisah dengan teman baikku Ruby. Saat itu aku berjanji dengan diriku sendiri untuk tidak mengecewakan ayah dan ibu lagi. Dan untuk Ruby, aku harus bisa menjadi normal seperti Ruby. Bukan orang lain seperti yang diminta ayah.
Tidak terasa kalau tinggal beberapa minggu lagi menjelang ujian semester. Aku ingat karena sudah diharuskan lebih banyak menghafal catatan dan melengkapi catatan yang tidak lengkap setiap malam oleh Ibu di rumah. Ketika sedang belajar dikelas, aku tiba-tiba dipanggil oleh wali kelas dan dibawa ke ruangan lain. Ruangan itu rupanya sudah ada guru-guru lain sudah menunggu. Saya jadi takut, karena saya sudah tidak berbuat masalah atau dipanggil oleh BP lagi. Ibu BP juga ada didalam, dan beberapa orang yang tidak saya kenal. Ada satu orang yang agak tua juga didalam. Aku melihat bapak itu beberapa kali di sekolah tapi tidak mengajar. Suatu kali dia pernah memanggilku. Rupanya beliau kenal baik dengan kakekku selama ini.
Saya tidak mengerti mengapa dipanggil ke ruangan itu. Mereka bertanya panjang lebar tentang perbuatanku di kelas maupun yang lainnya selama ini. Aku hanya teringat pesan Ayah untuk menjadi normal. Jadi, semua pertanyaan itu aku jawab seperti pemikiran orang normal saja. Ayah dan Ibu sangat terkejut ketika aku menceritakan pengalamanku ditanya oleh guru-guru ketika di sekolah. Belakangan aku baru mengerti bahwa pertemuan itu dilakukan untuk memutuskan apakah aku masih boleh melanjutkan sekolahku atau tidak. Namun sebelum mengetahui hasil tersebut, aku sering mendengar ayah membicarakan sekolah lain dan biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa pindah. Ternyata menghabiskan biaya yang cukup banyak. Aku bahkan sudah mencatat alamat rumah Ruby beserta beberapa teman lainnya. Nomor telepon beserta WhatsApp juga sudah ada. Biar tetap bisa ngobrol walau sudah beda sekolah.
Ketika Ayah mengantarku ke sekolah untuk mengambil rapor kenaikan kelas, beliau berujar “Hari ini mungkin hari terakhir kamu di sekolah ini nak”. Aku jadinya merasa berat untuk pergi ke sekolah. Setelah mengambil rapor dari wali kelas, terlihat ayah berbincang cukup lama didalam kelas. Ayah tidak berkata apa-apa ketika keluar dan buru-buru mengantarku untuk pulang ke rumah. Ketika berada dirumah, aku melihat Ayah segera menelpon Ibu dengan raut wajah bahagia. Aku menjadi penasaran dengan apa yang telah terjadi. Ternyata aku masih diperbolehkan bersekolah disitu. Saat itu juga, untuk pertama kalinya aku merasa lega dan bersyukur. Dan aku sudah tidak sabar untuk memberitahu Ruby kalau aku masih akan bertemu dengannya lagi.